Apa yang akan dia lakukan?
Seorang anak muda yang mendendam
Dengan pistol ditangannya
Wajah merah, nafas tersenggal amarah
Menerjang mafia penjual wanita dengan ganas
Menodongkan pistolnya dikepalanya
Sambil menggertak, ini untuk adik perempuanku!
Beng... beng... beng... dia menembaknya mati

Dengan pistol ditangannya
Tak tahan melihat bayi-bayi busung lapar menangis
Menetes melihat anak-anak lusuh kurus tidur dijalanan
Melirik lelaki setengah baya tubuh dibungkus kulit kering
Menarik gerobak sampah, terduduk kecewa dibawah pohon
Tergambar barisan eksekutif para koruptor didepan matanya
Keadilanpun takut untuk menyentuh mereka
Diarahkan pistolnya tepat keleher rajanya koruptor
Beng... beng... beng... dia menembaknya mati

Hanya ada satu keadilan baginya
Hati ternoda luka, perasaan berdarah hitam
Mata gelap melihat ceceran keringat yang teraniaya
Tak ada lagi tempat bernaung bagi mereka
Kekecewaan merubahnya bagai pahlawan keadilan
Melintas didepan rumah mewah miliyaran rupiah
Juragan pembalak hutan berdasi dan bersepatu mengkilap
Keluar diiringi bodyguardnya kearah mercedesnya
Diarahkan pistolnya tepat kejantungnya
Beng... beng... beng... dia menembaknya mati

Berjalan dilorong remang-remang pertokoan
Anak boss sedang melakukan transaksi
Ganja, ekstasi, Marijuana, Heroin
Berfoya-foya melahap keserakahan
Anak boss konglomerat terbutakan kemakmuran
Rakyat melarat bergulingan lapar dijalanan
Lalu dia mengarahkan pistolnya kedadanya
Beng... beng... beng... dia menembaknya mati

Dan diapun ditangkap, dikurung diruang gelap
Kakinya dirantai besi, wajahnya dibalut kain hitam
Berjalan terseret dilorong penjara, dikawal polisi gagah
Dia berpasrah dibawah keadilan semu
Tepat jam tiga pagi, tamatlah riwayatnya
Meregang nyawa dengan lubang dikepala
Darah mengucur segar melumuri muka dan lehernya
Palu hukum mengetuknya untuk mati
Beng... beng... beng... dia ditembak mati
Terukir dibatu nisannya "RIP.  SANG PENGADIL"

Nenen Gunadi
Tuesday, May05, 08
Edmonton, AB, Canada

 

 


Comments

cevabdu

Wed, 07 May 2008 07:49:05

puisi ini agak relevan dengan kejadian di negara kita yang semakin hari semakin terpurk dalam berbagaihal,dari mulai masalah eonomi, sosial, budaya dan bahkan yang paling memperhatnkan adalh dimensi moral,,, kini tiada lagi kata "tanah kita tanah sorga" yang ada hanyalah kegelisahan dan kegelisahan yang merana bagi setiap insan,,hanyha jiwa-jiwa yang berdekat dengan tuhan yang merasakan ketenanga.. koruptor semakin asyik menari-nari diatas penderitaan rakyat yang sebentar lagi BBM akan meluncur menuju harga semakin tidak manusiawi... hanya rintihan rakyar kecil yang ada setiap detik, sementara para pejabat semakin menumpuk kekayaannya yang mereka persembahkan kepada setan-setan kroninya....layaknya mereka mendapatkan
BENG-----BENG ------ TEMBAK

 

Wed, 25 Jun 2008 19:52:46

Salam !
Kepedihan dan kegeraman dalam puisi 'koboi' ini sungguh dapat dipahami. Sayang, dalam dunia nyata, tidak semua yang kita angankan dapat dengan mudah kita sempurnakan dalam laku. Bagaimanapun, kata orang bijak, tetap berfikir dan bertindak waras akan lebih baik, di jaman yang makin gila ini. BTW, tetaplah memelihara ide-ide 'liar' anda,sembari jangan lupa tetap menikmatinya dengan gembira.
salam sahabat !

 



Leave a Reply

Name (required)
Email (not published)
Website