Upama jungjunan lunta, neang laratan waruga
hamo katiten kasaba na  jungkiring gedong
tohaga

Upama jungjunan neang, mipir galih mapay sukma
Sorang jalan ngembat panjang
pinuh rungkun saliara

Upama jungjunan pengkuh , tidinya aya nu tugur
Mere iber mere tanda , hanjunag beureum
ngajajar lima
Mageran aci malati rasa.

Oleh Maman Wahyu

 
Puisi Romantis 07/29/2008
 

Ku tabuh luar dadaku...kamu ada di situ
Ku lari meninggalkan bayang sendiri...kau turut
Ah...ku kembali ke bayangan yg ku tinggalkan...kau masih setia..
Lelah? Belum de... 

Kalau saja aku sesuatu...
Biar ibumu tau dan mau
Tapi aku belum bisa jadi sesuatu...
oh...bidadariku... 

Sejengkal Cuma...
Harapan itu ada..
Sebesar apa cinta…
Uh…hampir saja gila…

Terlihat jelas rasanya..
Bahagia disana..jika saja…
Cinta itu tetap terjaga..
Ah…kisah kita memang berbeda..

Jalan buntu 94’
-Esutisna-

 
Bakul Cinta 07/28/2008
 

Juli 2008

Pernah kita nyatakan rasa cinta kita???????
Perlukah itu??
Kamu tau, aku tau, kamu aku cinta memang??
Terucap???
Jalanin ajah... pernah ada kata seperti itu
Seperti air mengalir??? Bukan! Seperti Romi dan Juleha??
Gak Juga!!

Jadi Cinta kita tuh apa sih
Tanya di seberang sana
Sewaktu sungai itu masih mengalir
Dan Tukang Perahu masih setia menunggu yg akan di gilir (nyebrang bo, jgn ngeres)

De sini...
De mari kita artikan cinta kita...
Sekecil, sebesar apa..
Romantis…indah atau banyak tangis???
Ini cinta punyaku
Ga muluk muluk
Sebesar bakul hatiku
Yg terus ku isi dengan rasa....

Bakul....

Cinta yg bisa membentuk bambu jadi seperti  itu
Cinta juga bisa menjadikan bambu itu jadi apa saja
Tanpa cinta??? Cuma jadi tiang bendera yang terpasang setahun sekali!!!

Kita Putus...tidak teriakmu!!!
Memang kita terikat? Tidak kataku!
Kita saling cinta?? Tukang perahu pun tau..
Ibumu pun tau tapi tak mau!!!
Karena yg ku beri hanya bakul dari Bambu!!

Sekarang kau cari bakul yang lain..
Silahkan...

Ada yg berbisik....
Kalau jodoh memang tak kemana..
Tapi kemana cinta....cinta…
Air di sungai saja masih mengalir, harusnya jalanin ajah, gitu kan!!
Tapi Bakul memang tak bisa menampung air..
Tapi bakulku penuh dengan cinta…

Bakoel ‘94

 

 
 

Andai mampu kupetik rembulan
Kupinjam sejenak pendar sucinya
Dengan rasa, berharap kusimak
Guratan syair kerinduan dan cinta
Yang tergores sempurna di sana
Ribuan tahun lamanya
 
Andai bisa kugapai rembulan
Satu lagi syair cinta
Kupastikan terpahat di sana
Meski,  tak lagi sempurna ...

Fred
(Untuk Teh Nenen :) )

 
 

Ketika kerlipan bintang asmara menegur hatiku
Aku tak mau mengabaikannya
Lalu aku biarkan taburan berjuta kilauan bintang
Diremang-remang malam panjang mencumbui asaku
Disini aku terpaku cinta dalam senandung asmara
Dan dalam selimut angan terindah cinta

Aku adalah cinta
Cinta bermekaran mengharum wangikan nafasku
Akan kukatup bibirku yang merah merekah
Sampai ada hati yang mempersembahkan cinta buatku
Akan kubisikan puisi cinta ketelinga hatinya
dan akan kusemburkan nafas wangiku keputih hatinya

Jangan terlalu bersusah payah untuk mempersembahkan cinta
Segalanya akan menjadi mungkin dan mudah
Ringankan beban dan damaikan perasaan
Didalam suasana terindah
Didalam suasana terburuk
Persembahkan berjuta cinta buatku

Kapuk-kapuk putih bertebaran diangkasa biru
Memutihkan sejauh mata memandang
Sampai ketika mataku tersentuh kapas itu
Terpejam sesaat masuk dalam lamunan tercantik
Asaku bagaikan sepasang merpati putih memadu kasih
 
Aku adalah cinta
Ku persembahkan hanya untuk seorang hati terkasih
Cinta ada disini karena dirimu juga ada
Kita adalah cinta
Yang sedang menanti hari diujung pucuk daun cinta
 

Nenen Gunadi
Edmonton, AB, Canada
July 14, 08  19:11

 
 

cintaku terbebas di timur
sebebas kuda perkasa padang rumputan
selepas tawa kanak bermain layangan 
namun juga tersembunyi sunyi di sudut negeri
yang tengah memintal mimpi
menjadi bangsa yang mandiri
dan tegak dengan harga diri

cintaku berlabuh jauh di timur
sejauh hati menanggung  pedih luka
dari tubuh kenyang derita aniaya
dan tatapan bisu kering airmata
semua atas nama kehormatan negara
entah dicapai tanpa hirau susila

cintaku tumbuh akar di timur
di sela karang tajam batu hitam
di terpa angin dingin tepi lautan
menyeru lantang di lembah kering gersang 
namun juga gelisah di tengah pusaran zaman -
yang kian membingungkan

fred baning, mozaik timortimurku, 1998

 

 

 
 

Aku menelan kekecewaan dihari cerah
Semestinya aku tepis rasa-rasa kacauku
Tetapi hatiku semakin berdetak keras
Tak kuasa menahan gejolak kepedihan

Waktu itu aku merasa tak senyaman dirimu
Hatiku bergetar ketika kucoba untuk melawan
Rasa yang menggumpal panas didalam bilik hati
Meronta-ronta merengkuh seluruh jiwaku

Dan akupun menjadi kalap, merinding, gelisah
Ketika kutatap kedua matamu yang juga menatapku
Linangan menetes dalam pantulan kemilauan sinar
Aku terhentak dan terenyuh malu dihadapannya

Aku tidak bermaksud melukai rasamu yang tulus
Yang ada hanya ungkapan emosi jiwa yang terpendam
Mungkin aku hanya pecemburu yang keliru
Cemburuku karena rasaku terlalu mencintai kamu


Nenen Gunadi
Edmonton, AB, Can
June 24, 08 – Tuesday 18:05

 

 
AKANKAH KAMU ? 06/24/2008
 

Akankah kamu memeluku ?
Jika aku berbaring disampingmu bersama malam
Terbayangkan lagu syahdu malam hutan-hutan merindu
Akan kubiarkan rambutku tergerai disentuh cahaya bintang
Berjuta rasa bahagia melamunkan hangatnya dalam pelukan

Akankah kamu memeluku ?
Jika aku sedang terlena ditepian pantai pasir putih
Dibawah naungan rembulan biru melagu mesra
Akan kuukir namamu diatas pasir itu dalam hiasan cinta
Berjuta rasa bahagia melamunkan hangatnya dalam pelukan


Nenen Gunadi

Edmonton, AB, CAN

June 19,08  12.30 Am

 

 
 

Rangkaian syair-syair yang kamu ciptakan
Menghiasi kertas-kertas putih yang berserakan
Disaat aku berpijak diatasnya, kurengkuh dan kuhayati
Ada tutur kata terindah merayap menyentuh asaku

Namun ada tutur kata menghujam asa ketika terbaca
Sebaris syair memuja sempurna bagai tak tercela
Sang penyair dirundung rasa cinta yang berbunga
Sebaris tutur kata yang memuja hadirnya

Berdebar sambil tertidur diatas rumput kering
Masih kugenggam kertas syair dalam pelukan
Mataku disentuh butiran-butiran cahaya sang surya
Maha cinta telah membelengguku dan merantaiku

Kuterbaring dalam naungan gelisah hingga malam
Bertaburan kilauan bintang dilangit gelap
Ada satu yang paling bersinar tergambar dimataku
Kuingin merengkuhnya bersanding dikehidupanku

Usai sudah bunga harapanku melayu hati membiru
Kertas syair itu tidak bercerita tentang diriku
Namun dipersembahkan bagi yang terpuja
Oleh sang penyair yang aku puja

Maha cinta aku terpuruk kedalam ruang bilik sepi
Adakah bintang penyair turun dari langit
Menyapa cintaku merangkai tutur kata sempurna
Yang diperuntukkan hanya untuku yang memuja hadirnya

Nenen Gunadi
Edmonton, AB, Can
June 12.08  23:21 Thursday


 
 

Apakah aku mengecewakanmu?
Ada kesalahpahaman dalam komunikasi kita
Semalam ketika kita bertatap didalam mimpiku
Kamu bermuram namun diwajahmu tersirat cinta murni
Walau saat ini kamu berada jauh dariku

Aku bukan pemimpi tetapi benar aku terjaga
Ketika tiadak lagi kutemukan dirimu seutuhnya
Diruang kamar ini, diruang hati ini yang merindu
Terkenang sesaat kulirik wajahmu tersenyum bahagia
Disampingku ketika fajar datang menyapa hari baru kita

Seandainya saja kamu ada disini dalam detakan pelukan
Ingin selalu ada bersamamu dalam buaian romantis syair
Jangan pernah gelisah pecintaku, tak akan pernah ada yang lain
Kalau cinta buta, dan hatiku menjadi buta karena diri kamu
Akan selalu kunanti dirimu seutuhnya kembali ada disini

Pena cintaku menari mengukir kertas putih karena perasaanku
Yang sedang ada dalam kegundahan kerinduan hari demi hari
Hati ini selalu menyimpan namamu dan menguncinya rapat
Mata batin ini selalu melihat kehadiranmu dalam ruang hampaku
Mengisi kembali gairah kehidupanku yang pernah aku rasakan

Aku mencintaimu, sungguh itu dari sanubariku yang terindah
Kamu mengerti akan aku, juga aku mengenalmu mendalam
Aroma wangi cintamu menjadikan benteng rasa setiaku
Menghayati perasaanmu yang terus berpadu dengan jiwaku
Dan akupun terkesima ketika bayangmu hadir menemaniku

Kekuatan hatiku merajut pengertian dan kepercayaan
Suatu hari nanti kamu akan menampakkan dirimu kembali
Menyatukan butiran kasih yang terpisah sesaat
Akan kupasangkan lingkaran cincin asuhan rembulan
Melingkar manis dijemari asmara, tak ada hati lagi untuk ingkar

Karena kamu jauh, puisi ini ada!
Selalu kubisikan sebelum lelap tidurku
Menyebut namamu bersama aura rinduku
Selalu ada dan selalu kujaga perasaan romantismu
Pulanglah romantisku, aku menunggu disini  bersama puisiku

Nenen Gunadi
Edmonton, AB, Canada
June 03, 08  19:14