Betapa Kebetulan Malam Ini
Kebetulan Yang Manis Bagai Mimpi
Mempertemukan Kita Di Sini Di Negri Jauh Ini
Di Sini Kita, Dua Jiwa Sesama Asing Ini

Dipersatukan Dewi seni
Yang Membawa Kita Jauh Tinggi
Seakan Jiwa Kita Sebuah Lagu
Mengapung Di Udara Mozart badan Di dunianya yang Sahdu 
 
Kau Berkata : Betapa dalam matamu,
Betapa Manis Wajahmu.
Kau Katakan Itu Dengan Gairah Hatimu Yang Bergema sunyi,
Karena Kita Tidak Sendiri,

Dan Di Matamu Ajakan,
Dan Di Hatiku Kemabukan
Tak Terperikan.
Aku Lelaki, Maka Maafkan Ketinggian Hatiku,

Bila Bisikanmu Membelai hatiku: Betapa Dalam Matamu,
Betapa Manis Wajahmu. 
 
O, Penyair, Di Negriku,
Negriku Yang Kucinta,
Ada Padaku Seorang Kekasih Menunggu,
Ia Kawan Setanah Airku Yang Takkan Kusia-siakan

Hatinya,
Ia Kawan Setanah Airku Yang Takkan Kutukarkan Cintanya
Dengan Harta Dunia
Dengan Bintang Bintang Yang Bercahaya Dengan Bulan

Namun Kemabukan mencekam Hatiku,
Bila Di Matamu Mengambang Bayang bayang Cinta
Atau Ajakan Bercahaya.
Aku Lelaki, Maka Maafkan Ketinggian Hatiku,

Bila Bisikanmu Membelai Hatiku : Betapa dalam Matamu,
Betapa Manis Wajahmu. 
 
 


adi tHea, September’ 2006

 
 

Kini
Bersama dengan hujan sedih
Yang mengguyup mukaku
Kudambakan sebuah tangga dari debu
Yang terhimpun dari punggung punggung terbungkuk
Dan tangan tangan melekap ke lutut
Agar aku dapat naik ke langit tertinggi
Dan mengetahui
Kemana perginya doa dan keluhan kita  

O kekasih
Segala doa dan keluhan
Segala ratap dan tangis yang mendambakan pertolongan
Terpancar dari berjuta bibir dan hati
Lewat beribu tahun  dan kurun
Tentulah terhimpun di suatu tempat di langit
Dan barangkali
Kata kata dariku ini
Kini juga berada diekat kata-kata
Akan biarlah kita tunggu air mata langit
O kekasih
Kini aku merindukan
Dirimu untuk kembali
Dan biarpun angin
Yang tak dapat memisahklan kita 
Dan kini aku merindukan kamu
Di manapun kau berada
Dan kupun terlihat seperti biasanya
Kapan pun kamu berada

Adi tHea November’ 2006