ketika musim libur tiba
kemana gerangan
para penjaja makanan,
dan tukang parkir
sekolahan ?
fred baning Juni 2008
daun luruh,
menyusup angin
keretak ranting patah
kembang mekar dalam diam
pukau malam
di pucat rembulan
fred baning, juni 2008
rumput basah runduk rebah
daun terserak tumpah
dahan patah hunjam tanah
pagi mengejap, merayap
hening mencekam, menikam ....
badai yang tak pernah ramah
tinggalkan kesumat dan hikmat berlimpah:
lusinan kutuk dan sumpah serapah,
juga dzikir ampun - insan yang berserah
fred baning, Juni 2008
Aku malu, ketika bumiku digali dan diambil emasnya,
…..dan bangsa-ku tak mampu melakukan apapun.
Aku malu, ketika Sipadan dan Ligitan tak lagi ada dalam peta negara-ku,
….dan bangsa-ku tak mampu melakukan apapun.
Aku malu, ketika pasir lautku dikeruk dan diangkut,
….dan bangsa-ku tak mampu melakukan apapun.
Aku malu, ketika para pekerja asal negaraku digaji rendah di negara orang,
Dilecehkan dan dilanggar hak-hak-nya,
….dan bangsa-ku tak mampu melakukan apapun
Aku malu, ketika hutan hijau-ku yang rimbun,
Kini berubah gundul karena batang-batang berharganya telah dibabat semena-mena dan dijual tanpa rasa berdosa,
…. dan bangsa-ku tak mampu melakukan apapun
Aku malu, ketika segudang persoalan muncul,
Ketika kemiskinan belum juga bisa ditekan,
Ketika kebodohan belum juga bisa ditendang,
Ketika hukum belum juga bisa ditegakkan,
Ketika korupsi belum juga bisa dihilangkan,
Ketika demokrasi belum juga bisa ditegakkan,
…. dan bangsa-ku tak mampu melakukan apapun.
Dan aku malu sekali, ketika harga minyak dunia naik
Pemerintahku serta merta menaikkan harga BBM,
Atau, hanya inikah yang bisa diperbuat bangsa-ku ?
Tata TB Adjoes
Jakarta, sore 26 Juni 2008
Saat kubaca lagi berita-berita terbaru tentang demo kenaikan BBM
Jika aku datang tolong bukakan pintu
Aku mengharapkan manusia bersih
Gemetaran duduk bersila diteras rumahmu
Karena duniaku adalah penderitaan
Aku anak yang buta dan kehilangan jejak
Ruanganku adalah gelap dan dingin
Ketika aku mengemis adalah profesiku
Saat suaraku memelas adalah musikku
Ketika mata butaku menangis
Melingkar memeluk lutut didalam kardus
Oh… Dewa…
Jiwaku butuh kehangatan!
Saat perasaan takut berbaring tanpa pelukan
Ada seorang teman dalam ruang kardus
Menyelimutiku oleh sarung robek
Kurasa bagai selimut hangat kasih seorang Ibu
Yang telah hilang dan tak pernah kutemukan lagi
Dan jiwaku melolong merambat bersama malam
Malam dan terang kegelapan adalah bagianku
Mata batinku menuntunku berpijak diatas aspal panas
Ketika mata butaku menangis
Melingkar memeluk lutut didalam kardus
Oh… Dewa…
Jiwaku butuh kasih sayang!
Tiba-tiba kurasa ada sebilah pisau menembus perutku
Tercemar aroma marijuana dari nafasnya saat dia membentak
“Berikan recehanmu!” Dia telah merampas harta kecilku
Pisaunya dibiarkan bersarang diperutku yang mulai berdarah
Terpuruk jatuh sambil memegang luka tusukan sipenghisap
Aku merasa ringan mengapung diudara tak ada lagi nyeri
Mataku mampu melihat tubuh kecilku tergeletak kaku
Namun perasaanku mengembang mekar dipanggil cahaya suci
Ketika mata butaku tak buta lagi
Kini aku bahagia dan bebas memandang kisah hidup manusia
Hanya satu kata yang tersisa dibibir pengharapan
Oh… Dewa…
Sambutlah jiwa bahagia ini oleh kebijaksanaan abadi!
Nenen Gunadi
Thursday, May08,08
Edmonton, AB, Canada
Kamu punya gitar
Aku bisa bernyanyi lagu jalanan
Mungkin kita bisa akur
Mengais recehan untuk makan
Bapakku yang kiayi dikampung
Sudah tinggal bersama istri muda
Ibu menuntunku pergi kekota
Kini rumahku dikolong jembatan
Ibuku mengemis sepanjang hari
Demi nasi campur sambal terasi
Sehari makan, besok lapar lagi
Kamu punya gitar
Lagu kita lagu yang jujur
Jujur ingin hidup layak
Walau perut melilit lapar
Tak ada kata mundur
Terus petiklah senar gitarmu
Sampai jarimu membiru
Sampai suaraku serak
Alunkan nada sentuhan hati
Agar orang yang melewati kita terenyuh
Mau melemparkan recehannya kearah kita
Kamu punya gitar
Kita pergi dan bernyanyi
Terima recehan buat beli sandal jepit
Atau hanya tinggal diam disini
Mati kelaparan, bangkai kita teraniaya
Dan aku punya mimpi ketika aku terjaga
Suatu hari aku jadi penyanyi beneran
Menabung jutaan rupiah
Bisa beli rumah mewah
Bisa kenal dengan pejabat penting
Kamu punya gitar
Aku bisa bernyanyi lagu jalanan
Ibuku mulai sakit-sakitan
Muntah darah dipangkuanku
Aku menjerit, aku tak punya obat
Recehanku belum menggunung
Tak ada rumah sakit yang peduli
Kupeluk Ibuku yang sudah kaku
Kubasuhkan darah Ibuku kemukaku
Lalu aku berbisik ketelinganya
Tidur tenang… tidur tenang… Ibuku…
Nenen Gunadi,
Sabtu, 19 April 2008
Edmonton, AB, Canada
Kata orang,
Internet itu bak pisau bermata dua.
Bisa untuk memotong sayuran dan buah-buahan,
Tapi, kalau tak hati-hati bisa melukai.
Kata orang,
Internet itu banyak sampahnya.
Tapi tak kutemukan itu.
Yang kutemukan justru permata berharga
Kata Allah,
"Aku ciptakan manusia bersuku-suku,
bergolongan-golongan, ber-ras yang berbeda,
berdomisili di wilayah yang berbeda
Berbeda secara multidimensional"
Untuk saling mengenal (taaruf)
Kata-ku (dalam hati)...
Allah Maha Kaya
Karena disetiap sudut terkecil dunia-Nya
Ada ladang maha luas,
Ladang amal.......
Yang dapat kita miliki
(Salah satunya) lewat silaturahiim.........
Oleh, Tata TB Adjoes
Lapar…
Kelaparan…
Miskin…
Kemiskinan...
Aku tak mau itu
Nyatanya aku tergolek lemas Bernafaspun sudah susah
Terbayang nasi hangat
Kepingin anggur
Kehausan susu
Dompet lusuh dan kosong
Adalah gaya hidupku
Badan kurus, tulang dibungkus kulit Adalah tubuhku seutuhnya saat ini Mereka yang kaya raya
Mereka yang penguasa
Mereka yang serakah
Masih belum puas menggendutkan perut?
Datanglah kegubukku ini
Makan kulitku saja!
By, Nenen G
April, 04, 2008 – Ed, AB-Kanada
MERENUNG, BERBAIK
Aku merenung tentang kehidupan yang mengusik dan nyata
Siapkan mental, terkadang aku pun risau, lalu menangis
Getarkan jiwaku tatkala ada keganjalan, menyusut egoku
Berbaikan jadikan aku selamat, mari direnungkan
Lelaki berbaiklah pada wanita, karena wanita kan jadi kekasihmu
Wanita berbaiklah pada lelaki, karena lelaki kan jadi kekasihmu
Bapak berbaiklah pada anak gadismu, karena dia calon ibu
Ibu berbaiklah pada anak lelakimu, karena dia calon Bapak
Teruntuk teman kaum mudaku, mari direnungkan
Berbaiklah pada orang tuamu, mereka juga kan berbaik padamu
Berbaiklah cara bicaramu, budayakan rasa hormat pada orang tuamu
Tepislah rasa jiwa aroganmu, karena kamu kan jadi orang tua juga
Lelaki berbaiklah pada lelaki, wanita berbaiklah pada wanita
Teman berbaiklah pada teman, tetangga berbaiklah pada tetangga
Satu untuk damai, damai untuk bersahabat, satu dalam naungan bumi
Berbaik dan tersenyum mengukir karya seni yang terindah
Nenen Gunadi, Owen Sound, Juli,01-07