Kilatan indah pada jembatan lewat mana sejarah
Meratap tertitah, adalah sebuah jembatan dari mana
Kemungkinan yang selama ini tak mungkin, kelak akan
Menjelma
Sebutir debu yang tersisa di sudut kegelapan malam
Tetap titah, yang dalam kebisuannya mendendam keabadian
Yang tersa-sia
Lelaki!kutitipkan perempuan- perempuanmu kepadamu !
Yang kejengkelanmu kepada mereka menyimpan mimpi mimpi
Indah musim semi harapanmu yang terlena
Yang kehancuranmu karena mereka menyembunyikan rahasia
Wahyu sejati kenabianmu tentang keabadian
Dan kecemburuanmu kepada mereka menyikap wujud
Keutuhanmu yang berdandean seribu penampilan, menjemput
Langkah langkh mu menyusuri lorong panjang ketakterhinggaan
Yang teramat sangat sepi dan melumpuhkan
Lelaki!
Perempuanlah tubuhmu yang lain, ketika kesendirianmu
Yang asing ingin di sapa
Perempuanlah butir matamu yang gelisah, ketika kakimu
Terpangku ngilu hasratkan dunia
Perempuanlah merpati kesadaranmu yang resah, ketika jiwamu
Hendak terbang dengan kepak kepak kecil mengukir ruang
Perempuan, perempuanlah samudera teduh memanggil angin,
Awan, hujan dan sungaimu untuk tak henti henti mendendangkan
Puisi kehidupan.
Adi tHea
bandung’ Maret’ 2006