Dalam gelap ada suara diam
Merinding perlahan karena takut
Orang-orang bicara tanpa suara
Ada syair lagu tak ada melodi
Ada puisi dalam diam
Menangis tanpa suara
Merasa sakit tetap diam
Hati mengeluh
Bibir terkatup diam
Telinga mendengar diam
Mata melihat namun diam
Bisikan lembut suara diam
Dinuansa beku manusia
Menjalar bagai virus ganas
Nenen Gunadi
Edmonton, AB, Canada
Wed, 26-08 ; 19.00 pm
Sejenak aku pandangi
Batas cakrawala
Sang surya pun perlahan
Tinggalkan bayangan
Ada setangkup rasa
Yang akan tertinggal
Dan mungkin terus tertinggal
Jauh disana
Seakan aku terkunci
Tanpa dapat dan sempat bertanya
Biarlah sepi mengurung diri
Dalam seribu tanya yang ada
Biarlah saja serangga malam
Menjadi temanku ..
Hari-hari tetap sama
Tanpa ada yang berubah
Membuat diriku semakin
-Iman_Amry-
Malam bertanya siapa aku
Aku rahasianya – yang cemas, hitam, dalam
Aku kebisuannya yang penuh pemberontakan
Telah ku selubungi hakikat diriku dengan kebisuan
Dan ku salut hatiku dalam keraguan
Lalu, penuh khidmat, tinggal aku di sini, diam
Memandang, sementara abad abad bertanya padaku,
Siapa aku
Angin bertanya siapa aku
Aku ruhnya yang heran, di ingkari zaman
Aku, seperti dia, tak pernah diam
Terus mengelana tak ada hentinya
Bila sampai kami di tikungan
Kami akan mengira itu akhir penderitaan
Tapi kiranya
Waktu bertanya siapa aku
Aku, seperti dia, ialah raksasa, yang memeluk abad abad dan
Kembali menghidupkannya
Dari pesona harapan yang menawan
Aku menciptakan masa lampau yang jauh silam dan
Kembali menguburkannya
Agar dapat ku bentuk bagiku sendiri hari kemarin yang baru
Dengan hari esoknya es yang beku
Diri bertanya siapa aku
Aku, seperti dia, dalam kebingungan, menatap bayangan kelam
Tidakapapun membuatku tenteram
Aku terus bertanya – dan jawabnya
Akan tinggal berselubung bayangan yang memperdaya
Aku akan tetap mengira jawaban itu sudah datang begitu dekat
Tetapi ketika kuraih, ia telah lumat
Hilang, musnah.
Adi tHea
bandung Mei’ 2006
Kilatan indah pada jembatan lewat mana sejarah
Meratap tertitah, adalah sebuah jembatan dari mana
Kemungkinan yang selama ini tak mungkin, kelak akan
Menjelma
Sebutir debu yang tersisa di sudut kegelapan malam
Tetap titah, yang dalam kebisuannya mendendam keabadian
Yang tersa-sia
Lelaki!kutitipkan perempuan- perempuanmu kepadamu !
Yang kejengkelanmu kepada mereka menyimpan mimpi mimpi
Indah musim semi harapanmu yang terlena
Yang kehancuranmu karena mereka menyembunyikan rahasia
Wahyu sejati kenabianmu tentang keabadian
Dan kecemburuanmu kepada mereka menyikap wujud
Keutuhanmu yang berdandean seribu penampilan, menjemput
Langkah langkh mu menyusuri lorong panjang ketakterhinggaan
Yang teramat sangat sepi dan melumpuhkan
Lelaki!
Perempuanlah tubuhmu yang lain, ketika kesendirianmu
Yang asing ingin di sapa
Perempuanlah butir matamu yang gelisah, ketika kakimu
Terpangku ngilu hasratkan dunia
Perempuanlah merpati kesadaranmu yang resah, ketika jiwamu
Hendak terbang dengan kepak kepak kecil mengukir ruang
Perempuan, perempuanlah samudera teduh memanggil angin,
Awan, hujan dan sungaimu untuk tak henti henti mendendangkan
Puisi kehidupan.
Adi tHea
bandung’ Maret’ 2006