Aku Malu 05/26/2008
 

Aku malu, ketika bumiku digali dan diambil emasnya,
…..dan bangsa-ku tak mampu melakukan apapun.
Aku malu, ketika Sipadan dan Ligitan tak lagi ada dalam peta negara-ku,
….dan bangsa-ku tak mampu melakukan apapun.
Aku malu, ketika pasir lautku dikeruk dan diangkut,
….dan bangsa-ku tak mampu melakukan apapun.
Aku malu, ketika para pekerja asal negaraku digaji rendah di negara orang,
Dilecehkan dan dilanggar hak-hak-nya,
….dan bangsa-ku tak mampu melakukan apapun
Aku malu, ketika hutan hijau-ku yang rimbun,
Kini berubah gundul karena batang-batang berharganya telah dibabat semena-mena dan dijual tanpa rasa berdosa,
…. dan bangsa-ku tak mampu melakukan apapun
Aku malu, ketika segudang persoalan muncul,
Ketika kemiskinan belum juga bisa ditekan,
Ketika kebodohan belum juga bisa ditendang,
Ketika hukum belum juga bisa ditegakkan,
Ketika korupsi belum juga bisa dihilangkan,
Ketika demokrasi belum juga bisa ditegakkan,
…. dan bangsa-ku tak mampu melakukan apapun.
Dan aku malu sekali, ketika harga minyak dunia naik
Pemerintahku serta merta menaikkan harga BBM,
Atau, hanya inikah yang bisa diperbuat bangsa-ku ?


Tata TB Adjoes
Jakarta, sore 26 Juni 2008
Saat kubaca lagi berita-berita terbaru tentang demo kenaikan BBM

 
 

Jika aku datang tolong bukakan pintu
Aku mengharapkan manusia bersih
Gemetaran duduk bersila diteras rumahmu
Karena duniaku adalah penderitaan
Aku anak yang buta dan kehilangan jejak
Ruanganku adalah gelap dan dingin
Ketika aku mengemis adalah profesiku
Saat suaraku memelas adalah musikku

Ketika mata butaku menangis
Melingkar memeluk lutut didalam kardus
Oh… Dewa…
Jiwaku butuh kehangatan!

Saat perasaan takut berbaring tanpa pelukan
Ada seorang teman dalam ruang kardus
Menyelimutiku oleh sarung robek
Kurasa bagai selimut hangat kasih seorang Ibu
Yang telah hilang dan tak pernah kutemukan lagi
Dan jiwaku melolong merambat bersama malam
Malam dan terang kegelapan adalah bagianku
Mata batinku menuntunku berpijak diatas aspal panas

Ketika mata butaku menangis
Melingkar memeluk lutut didalam kardus
Oh… Dewa…
Jiwaku butuh kasih sayang!

Tiba-tiba kurasa ada sebilah pisau menembus perutku
Tercemar aroma marijuana dari nafasnya saat dia membentak
“Berikan recehanmu!”  Dia telah merampas harta kecilku
Pisaunya dibiarkan bersarang diperutku yang mulai berdarah
Terpuruk jatuh sambil memegang luka tusukan sipenghisap
Aku merasa ringan mengapung diudara tak ada lagi nyeri
Mataku mampu melihat tubuh kecilku tergeletak kaku
Namun perasaanku mengembang mekar dipanggil cahaya suci

Ketika mata butaku tak buta lagi
Kini aku bahagia dan bebas memandang kisah hidup manusia
Hanya satu kata yang tersisa dibibir pengharapan
Oh… Dewa…
Sambutlah jiwa bahagia ini oleh kebijaksanaan abadi!


Nenen Gunadi
Thursday, May08,08
Edmonton, AB, Canada