Nur bintang dimalam hari
Menembus lumpur… lumpur Lapindo
Angin malam menerpa hati
Terduduk lesu  berlinang-linang
Mengeluh merasa perih mencari keadilan

Usai sudahlah harapan hidup
Ditelan lumpur… ditelan lumpur
Menggores luka, rakyat menjerit-jerit
Kembalikan rumahku!
Sejahterakan hidupku!

Merangkul kekuasaan, kekayaan, dan jabatan
Presiden dan wakilnya menjadi linglung
Anggota DPR dan MPR ikut juga linglung
Manakah uang, manakah rakyat
Siapakah rakyat, siapakah uang

Nenen Gunadi
Huntsville, Can, 22Feb08 16:46 pm


 

 

 
 

Halo, adakah seseorang didalam istana presiden ?
Kalau saja dapat mendengar dan melihat
Aku datang untuk melihat kekayaanmu
Bersama perasaan hatiku yang perih
Aku lapar! Aku miskin! dan tak ada yang peduli
Komunikasi hancur

Halo, adakah seseorang digedung wakil rakyat ?
Jangan hanya banyak bicara tanpa aksi yang nyata
Lihat adik kecilku kelaparan, perut kembung
Tulang terbungkus kulit kering, Tak mampu beli susu
Tak ada uang untuk beli obat, dan tak ada yang peduli
Komunikasi hancur

Bunda, ayo kita pulang saja!
Sebelum penjaga berseragam itu, menendang kita
Lelah kaki kurusku berdiri seharian didepan gedung megah ini
Percuma saja kita berteriak dan memohon-mohon
Mereka hanya mendengarkan bintang gemerlap dilangit
Kita hanya limbah-limbah yang meratap

Aku sudah tak kuat lagi kehausan dan sakit perutku
Mari aku gendong adik tercintaku!
Kita duduk dibawah pohon besar itu, aku sudah merasa lemah
Bunda, belailah kepalaku dengan cintamu dalam pangkuanmu
Kini aku damai menutup mata dalam kasihmu dan lindunganmu
Kata terakhirku “Komunikasi hancur bagi kita yang miskin”

Nenen Gunadi
Huntsville, On, Canada
Feb-15-08

 

 
 

Aku heran kenapa tak seorangpun menyukaiku
Kulihat wajahku sangat tampan
Setiap hari aku berkaca, sampai kacaku berdebu
Kulihat wajahku tetap tampan

Lalu aku bertanya pada bundaku
“Bunda, kenapa tak ada yang menyukaiku?”
Bunda menjawab dengan nada datar,
“Nak, karena dompetmu kosong.”
“Bunda, kenapa tetangga kita wajahnya jelek,
tetapi gonta-ganti pasangan?”
Bunda menjawab dengan nada kesal,
“Nak, karena dia berdompet tebal, dan Bapaknya
pejabat koruptor.”
“Bunda, kenapa dia tidak ditangkap?”
Bundaku menjawab dengan gemetaran,
“Nak, karena dia anaknya dari  jendralnya jendral.”